Jumat, 16 Desember 2016

Cara Melakukan Tawassul yang Benar kepada Allah



Pertanyaan:

Bagaimana cara kita ber-tawassul kepada Allah?

Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullah menjawab:


Tawassul, di antaranya, ada yang boleh dan ada yang dilarang.

[A] Tawassul yang boleh dan disyariatkan adalah [1] tawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat 

Allah dan [2] tawassul dengan amalan shalih. Allah ta’ala berfirman,

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan milik Allah-lah nama-nama yang paling baik. Maka, berdoalah dengan nama-nama itu.” (QS. Al 

A’raf: 180)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ

“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan [wasilah] menujuNya.” (QS. 

Al Ma-idah: 35)



Maksudnya, mendekatlah kepada Allah dengan menaatiNya dan beramallah dengan apa-apa yang di-

ridho-iNya. Disebutkan ini oleh Ibnu Katsir, mengutip ucapan Qatadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمِ هُوَ لَكَ

“Aku memohon kepadaMu [ya, Allah] dengan setiap nama yang Engkau miliki.” (HR. Ahmad dan 

disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada sahabat beliau yang meminta 

beliau agar menemani beliau di Surga,

أَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ

“Bantulah aku [untuk memenuhi permintaanmu itu] dengan banyak sujud.” (HR. Muslim)

Maksudnya, [banyak] shalat dan ini termasuk amalan shalih.

Boleh juga ber-tawassul dengan kecintaan kita kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada wali-

wali Allah, seperti kisah orang-orang yang terjebak di gua yang mereka ber-tawassul dengan 

amalan-amalan shalih mereka—sehingga Allah pun memberi mereka jalan keluar.

[B] Tawassul yang dilarang adalah berdoa kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia dan 

meminta keperluan kepada mereka, sebagaimana yang terjadi pada hari-hari ini dan ini syirik 

besar. Sebab Allah ta’ala berfirman,

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kalian menyembah siapa saja selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan 

bahaya. Sebab jika engkau kerjakan itu, maka engkau sesungguhnya termasuk orang-orang yang 

zalim.” (QS. Yunus: 106)

[“Termasuk orang-orang yang zalim”] maksudnya, termasuk orang-orang musyrik.

Adapun ber-tawassul dengan kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ucapan, 

“Wahai Rabbku, dengan kemuliaan Muhammad, sembuhkanlah aku,” maka ini adalah bid’ah. Sebab para 

sahabat nabi tidak mengerjakannya dan juga Umar [bin Al Khaththab] ber-tawassul dengan doa Al 

Abbas [bin Abdil Muththalib] ketika beliau masih hidup. Umar tidak ber-tawassul dengan Rasulullah 

setelah wafatnya beliau.

Tawassul yang seperti itu terkadang dapat menyeret kepada kesyirikan dan ini jika seseorang 

[sembari] meyakini bahwa Allah memerlukan perantara manusia seperti seorang pemimpin atau hakim. 

Sebab ia telah menyamakan Allah yang maha pencipta dengan makhlukNya.

Sumber: Muhammad bin Jamil Zainu. Khudz ‘Aqidatak min Al Kitab wa As Sunnah Ash Shahihah. TTp: 

TPn. TTh, halaman 21-22.




Back To Top