LUAR BIASA ..!! GURU INI TETAP MENGAJAR WALAU TANGANNYA SUDAH TIDAK ADA!! BERIKUT PENELASAN NYA.

iklan


Keterbatasan fisik untuk sebagian orang mungkin satu aib. Namun demikian tidak sedikit juga orang dengan keterbatasan fisik namun tetap memiliki etos kerja yang luar biasa serta bahkan bisa jadi mengalahkan orang dengan fisik yang normal. Dalam berbagai bidang kita kerap lihat orang dengan keterbatasan fisik dapat jadi orang yang sukses serta bahkan kian lebih itu, mereka dapat memberi motivasi pada orang lain.
Salah satu dari sekian banyak cerita inspiratif yang dapat kita jadikan tauladan yaitu cerita Ayah Untung. Ia yaitu seorang yang memiliki keterbatasan fisik dengan tak memiliki lengan. Walau tanpa lengan, ia tetap gigih mengajar. Bagaimana kisahnya, simak berikut ini.

Keterbatasan Fisik Tidak Melemahkan Semangat Pak Untung

Pak guru Untung tak memiliki lengan yaitu satu fakta, tetapi semua kekurangan yang dipunyai Pak Untung tak pernah bikin nya jadi orang yang lemah. Ia tetap jadi seorang yang optimis dan tetap bekerja dengan giat seperti orang normal yang lain. Profesi mulia nya sebagai seorang guru Madrasah Ibtidaiyah tetaplah ia jalani dengan ikhlas serta sepenuh hati. Pak Untung yaitu satu diantara Guru Honorer yang aktif mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Kerja keras serta perjuangannya jadi seorang guru profesional dibuktikan dengan kemampuan kaki nya saat ini yang dapat menggantikan tangannya. Tak kalah dengan orang normal yang lain, jemari kaki Pak Untung dengan lihai menari-nari mengoperasikan tombol laptop. Ia juga tak canggung menggunakan piranti laptop untuk mendukung pekerjaanya sebagai seorang Guru. Bukanlah itu saja, Pak Untung bahkan juga dapat menuliskan lafal ayat-ayat Al Quran di papan catat untuk anak didiknya.

Upah Minim Tidak Bikin Pak Untung Berhenti Mengabdi

Sebagai seorang tenaga honorer di sekolah Madrasah Ibtidaiyah, upah yang didapatkan Pak Untung juga tak


besar. Tidak lebih dari 500 ribu, upah yang diperoleh Pak Untung dalam satu bulannya. Dengan kondisi seperti ini, pasti Pak Untung tak dapat cuma mengandalkan upah bulannanya dari mengajar di Madrasah Ibtidaiyah. Ia juga lalu bekerja apa saja untuk sebatas menyambung hidup selepas ia mengajar di sekolah. Biasanya ia mengajar ngaji di Musholla dekat rumahnya tiap-tiap sepulang sekolah. Diluar itu, ia juga memelihara sebagian ternak seperti ayam serta bebek untuk memenuhi kebutuhannya.

Pernah satu saat ada yang bertanya pada Pak Untung mengenai upah yang ia peroleh dari mengajar. Apakah cukup hanya upah sebesar itu untuk mecukupi kebutuhan keluarganya. Tetapi sungguh begitu menginspirasai jawaban beliau. Beliau menjawab kalau ia telah mengikhlaskan dianya untuk dunia #pendidikan. Pengabdiannya untuk sekolah Madrasah Ibtidaiyah ia untuk jadikan ladang amal yang nantinya bakal beliau ambillah di akhirat.


Pelajaran Bernilai Dari Pak Untung

Banyak pelajaran serta hikmah yang dapat kita petik dari cerita hidup perjuangan Ayah Untung ini. Pertama pasti yaitu perjuangan yg tidak kenal capek dalam menghadai kerasnya kehidupan dengan kondisi fisik yg tidak genap. Dapat kita pikirkan, bagaimana beratnya Beliau membiasakan lakukan suatu hal dengan kakinya lantaran tak ada lengan. Bila Beliau tak mempunyai hasrat keras untuk maju serta berkembang pasti bakal menyerah demikian saja pada kondisi serta mengharap kasihan dari orang lain. Banyak kita temui di sekitaran kita beberapa masalah sekian.
Diluar itu, hasrat mengabdikan diri dalam pendidikan dengan kekurangan yang Beliau punyai pasti adalah pelajaran yang mengagumkan untuk kita orang etika dengan fisik yang komplit. Upah yg tidak seberapa tak bikin Pak Untung mengurungkan kemauan untuk mencerdaskan generasi bangsa. Beliau bahkan juga tak akan mengkalkulasi berapakah besar upah yang ia dapatkan, beliau malah telah mengikhlaskan dianya untuk dunia pendidikan. Pantas jadikan tauladan sangkanya kalau duit bukan hal yang mutlak.

Selanjutnya yang dapat kita contoh pasti yaitu bagaimana sikap kewirausahaanya yang gigih serta tidak kenal menyerah. Dibuktikan dengan walau telah jadi seseorang guru, tetapi Beliau bukan sekedar memercayakan upah dari mengajar untuk hidup. Beliau tetaplah berwiraswasta dengan pelihara sebagian hewan ternak di tempat tinggalnya.